Langsung ke konten utama

Semuanya Ada Pada Kita Bukan Mereka



“Lihatlah betapa bobroknya bangsa ini!”, kata seseorang pemuda.

“Wakil rakyat kita melakukan korupsi, pemimpin kita tergila-gila
terhadap jabatan. Bangsa ini masih mengemis kepada imperialism
Barat!!! Mereka, para pemegang kekuasaan atas bangsa ini apa yang
mereka lakukan?”. Pemuda itu tampak berapi-api dalam berbicara.
Dia melanjutkan,”Bangsa kita jauh tertinggal dari Barat! Coba lihat
betapa mereka berkuasa sedangkan kita tidak berkutik apa-apa.”

Kemudian temannya yang sedari tadi memperhatikan, bertanya
kepada pemuda tersebut, ”Lantas apa yang Barat miliki kita tidak?
Setahu saya kita yang lebih unggul. Tanah kita subur mereka tidak.
Lautan kita kaya mereka tidak. Hutan kita kaya mereka tidak.
Tambang kita juga kaya dibanding mereka.”

“Tapi lihatlah bagaimana teknologi meraka yang canggih, betapa
sistem mereka berjalan dengan baik, bagaimana…”, bantah pemuda
tersebut.

Belum selesai dia berkata temannnya telah menyela.

“Berarti manusia-nya yang lebih mulia? Saya rasa tidak. Lihatlah
betapa bangsa kita ini jauh lebih memiliki nilai-nilai luhur daripada
mereka”

“Jika memang bangsa kita lebih luhur bagaimana mungkin kita bisa
kalah? Lihat saja sekelilingmu sampah bertebaran. Korupsi dimana-
mana, pengangguran…”

Sekali lagi perkataannya pun disela,”Saudaraku, kini telah engkau lihat bahwa permasalahannya ada pada KITA, bukan MEREKA.

Ketika mereka memiliki tanggung jawab untuk memungut sampah di
jalanan, sesungguhnya kita lah yang berkewajiban untuk tidak
membuang sampah pada tempatnya. Jadi apakah bijaksana jika kita
menyalahkan mereka atas sampah yang kita buang?”

Sering sekali saya mendengar orang-orang yang mencemooh apa
yang dilakukan pemerintah. Pemerintah begini lah, pemerintah begitu
lah. Baiklah memang saya akui bahwa para pemegang kekuasaan
NKRI di tingkat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif belum mencapai
tingkat kinerja yang ideal. Akan tetapi apakah semua keburukan yang
terjadi di NKRI ini adalah tanggung jawab dan akibat perbuatan
mereka?

Mari kita pergi ke sebuah negeri di daerah Asia Timur yang bernama
Jepang. Apa keunggulan mereka dibanding kita? Jelas kita tertinggal
jauh dalam hal teknologi disbanding mereka. Pertanyaannya adalah
mengapa itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena mereka giat
bekerja.



Sebuah hal yang pantas kita renungkan adalah siapakah yang
berkewajiban untuk bekerja, kita (masyarakat/diri kita sendiri) atau
mereka (pemerintah)? Tentu tanggung jawab untuk giat bekerja ada
pada diri sendiri. Oleh karena itu sungguh tidak bijak menyalahkan
mereka atas tanggung jawab yang tidak kita lakukan.

Kita ambil sebuah contoh lain dimana sebuah kota di Barat dipandang
lebih maju daripada kota lainnya di NKRI. Kota itu adalah kota yang
terautr, masyarakatnya taat berlalu lintas, bersih, dan nyaman. Mari
kita selidiki satu persatu.

Apa yang menyebabkan lalulintasnya teratur? Apakah karenaa selalu
diatru oleh pihak yang berwenang (Polisi)? Oh ternyata tidak, Polisi
disana hanya duduk-duduk di dalam mobil sambil makan kue donat
(film banget). Tetapi masyarakatnya menaati rambu lalu lintas semisal
traffic light, tidak parkir sembarangan, dan sebagainya.

Lalu mengapa kota tersebut bisa bersih? Apakah petugas
kebersihannya berdedikasi tinggi dan jumlahnya banyak? Ternyata
tidak. Di sudut jalan kita melihat seorang warga Negara mengantongi
bungkus permen yang telah dia makan. DI tempat lain kita lihat beberapa orang membuang sampah pada tempatnya.

Mengapa kota tersebut begitu nyaman? Karena kota tersebut bersih
dan teratur. Bagaimana dengan disini yang kebalikannya. Siapakah
yang yang menyebabkan kota ini kotor dan tidak teratur? Itu semua
adalah kita sendiri, kita yang membuang sampah sembarangan, kita
yang menerobos lampu merah, dan sebagainya.

Jadi bagaimana membuat bangsa ini maju? Semuanya dimulai dari
KITA dan bukan MEREKA. Ketika kita kagum pada Microsoft buatan
Amerika maka sebenarnya siapa yang kita kagumi? Presiden Amerika
atau Bill Gates?? Lalu siapakah Bill Gates? Apakah dia Mentri
Teknologi? Bukan, Bill Gates adalah warga Negara biasa yang
membuat negaranya bangga. Kebanggaan yang dikumpulkan dari
tiap individu itulah yang membuat Negara itu tampak besar.
Saya pikir, kalaupun Ahmadinejad ataupun Barrack Obama sekalipun
menjadi presiden Indonesia, negeri ini tidak akan berubah kecuali kita
sebagai rakyatnya mau berubah.

Jadi kini saatnya kita teriakkan, “Ini semua adalah tentang KITA,
bukan MEREKA!!!”. Mulailah bertindak untuk sebuah perubahan.
Jangan mengharapkan perubahan akan datang dengan sendirinya
dan tiba-tiba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Benarkah Kita ingin Seperti Mereka ?

Ah, orang Indonesia memang pemalas. Coba lihat di jam kerja seperti ini banyak pegawai yang hanya duduk-duduk saja mengobrol dengan teman sebelahnya. Herannya lagi, hal seperti ini berlangsung setiap saat dari pagi hingga pagi lagi. Kita yang dalam bekerja pun tidak maksimal. Kerja hanya setengah-setengah yang penting selesai. Etos kerja yang sangat rendah. Datang terlambat, istirahat molor, pulang duluan. Di kantor pun tak tahu apa yang dikerjakan. Bekerja dengan sangat cepat bagai kura-kura. Bekerja segan, nganggur pun tak mau. Meremehkan pekerjaan kita, dan meremehkan masalah yang ada. Terlambat menjadi nama julukan yang telah meresap ke sendi- sendi. Kerja bagi kita hanya berbatas pada uang bukan ambisi atau cita- cita. Tak ada kah semangat dari dalam diri kita untuk bekerja sepenuh hati mengorbankan, jiwa, raga, harta, dan waktu demi pekerjan kita? Pelajar dan mahasiswa pun sama saja. Kita di kelas yang sibuk bermain hape dan tidak memperhatikan apa yang...

Nasionalisme Instan

Bukan negerinya, melainkan orang-orang yang mendiami negeri ini. Mereka adalah orang-orang instan. Tentu saja bukan berarti orang- orang ini berada dalam bungkusan dan siap dimasukkan ke dalam air panas agar matang. Tetapi instan sudah melekat dalam hati dan pikiran kami. Mungkin ini karena apa yang kami makan. Meskipun mie bukan makanan pokok kami, tetapi kami adalah negara konsumer mie instan terbesar di dunia. Bahkan salah satu produk mie instan dari negeri kami sangat terkenal dan digemari di dunia. Jadi wajar jika pikiran kami pun ingin yang serba instan. Mulai dari tontonan kami: sinetron instan, artis instan, politikus instan, pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang dapat terwujud secara tiba-tiba itulah yang kami gemari. Tentu saja tidak heran jika artis dan politikus dadakan menjamur bak di musim hujan. Sekali lagi, ini negeri orang instan. Bahkan pemimpin kami pun pemimpin instan. Presiden yang menggunakan jinggle mie instan sebag...

Menjadi Sebuah Bangsa Yang Besar !

Bangsa ini adalah sebuah bangsa besar, namun sayangnya namanya belum sebesar yang diharapkan. Masih banyak kekurangan di berbagai tempat. Bahkan jati diri bangsa pun mulai hilang. Padahal bangsa-bangsa besar yang ada saat ini tumbuh dengan jati dirinya. Orang bilang Amerika dan Eropa adalah bangsa yang besar. Bangsa yang giat bekerja keras membangun bangsanya. Apa yang menyebabkan mereka bisa menjadi bangsa yang besar? Pikirku kebesaran mereka adalah karena kesendirian masyarakatnya. Masyarakat yang individualis dan kurang dekat dengan orang lain. Sehingga mereka harus bekerja keras agar bisa mandiri dan menciptakan keamanan bagi diri mereka sendiri. Mereka bekerja untuk membuktikan bahwa diri mereka mampu. Mereka bekerja untuk membuktikan kepada orang lain bahwa mereka mampu dan hebat. Seperti itulah mereka. Begitu pula Jepang, mereka bangsa yang besar. Mereka mampu bangkit dan berkembang dengan pesat. Apa yang menyebabkan mereka menjadi bangsa yang besar? Pikirku kehormata...